Read Me,
Please!
Karya : Hendra Dea Arifin
Para pelacak sibuk.
“Dia
mengubah lokasi setiap satu menit, susah untuk dilacak.”
“Terus
cari! Temukan Dia!” Mereka terus sibuk mencari mafia besar itu.
Lima menit
berlalu, ke-sepuluh jari mereka terus beradu, mengetikkan script.
“Bingo!” Salah satu dari mereka berseru, membuat kesembilan pelacak lainnya
menoleh memasang wajah-wajah ingin tahu.
“Dia
mengubah lokasinya setiap satu menit, namun terlihat jelas polanya.”
Theo
-pimpinan mereka- mendekat ke arahnya, berdiri di belakang kursi, menatap ke
layar monitor.
“California,
Jakarta, Cansas, Nevada, Texas, Sydney, New York-”
“Exactly,
perpindahan polanya terlihat jelas, seperti topologi bintang, memusat.”
“Jakarta.”
“Perbesar mapnya,
cari alamat spesifiknya.”
“Night
Coffee Bar, Jalan Majapahit, tepat di depan Rumah Sakit.”
“Kau!
Suruh anak buahmu menangkapnya, cepatlah! BERGEGAS!” Theo menyuruh petugas lain
setelah menyebutkan alamat lengkapnya. Begitu tegas.
Sial. Lihatlah, mereka berhasil menemukan posisiku, jarak mereka sangat dekat.
“Jangan
bergerak!” Aku kaget setengah mati, mereka menemukan posisiku. Belum
sempat aku keluar dari bar, aku kalah cepat. Empat detik tidak cukup bagiku
untuk kabur dari pandangan mereka. Hari yang sangat buruk. Mereka menangkapku,
membawaku.
Setidaknya
aku bisa merasa lebih aman, aku telah menghapus seluruh script history
yang telah aku gunakan, semua aktivitas dan identitas di dalam laptopku. Enter.
Script otomatis yang sudah aku siapkan sebelumnya langsung bekerja cepat
melakukannya. Aku angkat tangan, diborgol, dibawa ke markas kepolisian
pusat, Jakarta. Lima menit berlalu.
Aku
menyumpahi dan mengutuk kasar kejadian itu. Aku terlalu asyik dan terlarut
meretas data server kepolisian indonesia, sibuk mencari nama saudariku.
“Sebutkan
namamu!”
Aku
terdiam, duduk di depan Madam. Interogasi. Saat itu aku sangat menyesal. Night
Coffee Bar bukanlah tempat yang tepat. Dan aku telah melakukan kesalahan
besar. Aku membawa masuk identitasku ke dalam server kepolisian indonesia.
Intranet yang digunakan bukan seperti jaringan yang biasa. Identitas dan akun
tidak dapat disembunyikan. Aku salah mempertimbangkannya, tidak memikirkan
risiko yang lebih besar. Aku terlalu bersemangat untuk membebaskan saudariku,
menghapus jejak bukti.
“Mealymouthed?
Bisu?” Madam berucap lagi.
Ya. Bisa dibilang
aku adalah orang yang Mealymouthed (tidak suka berbicara), aku merasa
tidak ada di dunia nyata. Dikucilkan, tapi aku adalah orang yang cerewet di
dunia maya. Dunia maya adalah duniaku. Sedikit pun aku tidak bernafsu untuk
berbicara saat ini.
“Med. Med
Angel.” Aku menatap wajah Madam lamat-lamat, menjawab pelan.
“MED?
Master of Education? Nama yang bagus, sejak kapan kau menjadi hacker, Med?”
Aku tidak mempedulikan
kepanjangan atau arti dari namaku. “Aku hanyalah seorang Script kiddie, amatiran.”
“Dan kau
sudah bisa meratas server BND di Jerman? Atau bahkan INTERPOL? CIA? FBI?”
Sial, mereka
mengetahui semuanya, mereka telah merekam seluruh jejak identitasku sepuluh
tahun silam, bahkan semenjak aku berada di Jerman. Semenjak aku keliling dunia.
“Kau
adalah rajanya hacker, Med. Kau adalah mafia besar dunia maya. Buronan kelas
kakap, banyak negara yang mencarimu, ingin memusnahkanmu. Tapi mereka
gagal.”
Aku
terdiam, menundukkan kepala. Menghadap ke arah sebuah gelas berisi air putih di
meja.
“Server facebook,
google, semua sosmed, bank, akun presiden, bahkan data kepolisian
ataupun militer yang berada di dalam intranet, sangat rahasia, semua bisa kau
retas dengan sangat mudah.” Madam lanjut berbicara. Baiklah.
“Orang-orang
beranggapan bahwa akun mereka aman, sistem yang mereka gunakan aman, mereka
semua tidak mengetahui, tidak ada sistem yang aman.” Aku berbicara.
Memegang gelas, kuputar dengan dua jari tanganku. Menatapnya lamat-lamat. Santai.
“Kau lebih
pandai daripada seorang black hat profesional, Med. Banyak hacker
di luar sana yang hanya bisa menyentuh ranting pohon, kesulitan
memanjat, itu pun diketahui pemiliknya, tapi kau, kau bisa memetik
buahnya, bisa berdiri santai di atas pohon, bahkan kau bisa mencabut
sampai ke akar, tanpa sang pemilik mengetahuinya. Tanpa jejak.” Madam
mendekat ke arahku, melemparkan pelan lembaran-lembaran catatan cybercrime
dunia.
“Kau tahu,
Med, seluruh polisi dunia kesulitan mencari pelaku atas semua kejahatan ini,
dan kali ini, kami bisa menangkapmu, kaulah orangnya. Kau sungguh luar biasa,
Med!”
Aku
menundukkan kepala, menilik lembaran-lembaran itu.
Serangan
pada beberapa situs web komersil bertrafik tinggi, kerusakan ekonomi yang
mencapai 7,5 juta hingga 1,2 milyar dollar. Penciptaan virus e-mail,
menginfeksi dan melumpuhkan lebih dari 50 juta komputer dan jaringan, menyerang
komputer-komputer milik Pentagon, CIA, dan organisasi-organisasi besar lainnya.
Pemalsuan kartu kredit di Eropa Timur, produksi masal, debet palsu, penghasilan
mencapai 100.000 dollar per hari. Penipuan terhadap lembaga-lembaga keuangan di
Seattle, Los Angeles, dan Texas. Pencurian database 50.000 kartu kredit. Aku melihat beberapa lembar, menggesernya satu-satu.
“Itu
fitnah.” Aku membalasnya, memandang dengan wajah protes.
“Identitas
yang sama, ip yang sama. R1tchy. Kau menggunakan nama R1tchy
sebagai nama samaranmu di dunia maya.” Madam berucap cepat. Menatapku
menyelidik.
“Itu
identitas palsu, menggunakan namaku sebagai senjata untuk semua
kejahatan itu. Aku berani bersumpah, aku tahu orang itu. Dia adalah Einst3in.
Dia bukan hanya bisa mencabut pohon sepertiku, tapi ia bisa mencabutnya
beserta lahan dan rumah pemiliknya tanpa diketahui siapapun.” Aku
mengangkat kepala setelah tertunduk, menjelaskan, menggenggam keras
lembaran-lembaran itu. Membantingnya ke meja.
“Temukan
Einst3in!” Madam memerintahku dengan nada wajah bertaruh.
“Dan kau
akan membebaskanku beserta saudariku?” Aku mulai membuat taruhan.
“Tidak
akan pernah, bahkan saudarimu sekalipun. Kalian adalah mafia besar yang bersekongkol
hebat, aku baru dapat menyimpulkan hal ini. Kalian melakukan
kejahatan-kejahatan besar di banyak negara, saudarimu tertangkap. Tapi kau, kau
sungguh black hat profesional. Kau bisa lolos.”
“ITU
FITNAH! Kami menggunakan satu identitas, kami melakukan hal baik melalui dunia
maya, banyak orang tidak suka, lantas meretas identitas kami, mengatas-namakan
kami, melakukan cybercrime di mana-mana. Polisi menganggap bahwa
kami-lah pelakunya, lantas memburu kami. Hingga Saudariku tertangkap.”
“Aku
berani bertaruh, aku akan menangkap Einst3in dan kau akan membebaskan kami, dia
adalah aktor penting sekaligus dalang atas semua kejahatan ini.” Aku
bertaruh sekali lagi, “Asal kau tahu, Madam, aku telah meretas akunmu, maaafkan
aku atas hal ini, aku bisa melaporkan akunmu ke atasanmu atau bahkan melaporkannya
ke CIA, dan kau akan mendapatkan hukuman berat atas tindakanmu.” Aku
menyeringai, yakin dengan taruhanku.
Madam
sedikit tertegun, kaget dengan perkataanku barusan. Lihatlah, Madam memasang
wajah marah, menatapku tajam, sekaligus berpikir cepat untuk banyak hal,
kemungkinan dan risiko yang bakal terjadi. Madam menghela napas pelan.
“Kau akan terkenal
setelah menangkap buronan besar itu, kau akan menjadi orang hebat, aku
yakin, Madam. Tapi jika tidak, kau tahu, kau tidak akan bisa memburu orang-orang
sepertiku lagi, kau akan kehilangan pekerjaanmu, terhina banyak orang.” Aku
menambahkan, meyakinkan Madam. Sekali lagi Madam menghela napas, lebih panjang.
“Baiklah,
Med, kau tangkap dia, kuberi kau waktu-”.
“SEMUANYA!
DARURAT, BAHAYA SEKALI, KITA HARUS SEGERA PERGI DARI SINI!” Seorang petugas
berdiri tegang di pintu ruang interogasi, memotong, berteriak kencang, ngos-ngosan,
“Seseorang telah memprogram ulang dan mengaktifkan nuklir bawah tanah, waktu
kita lima belas menit untuk menjauh sebelum nuklir meledak. Semua orang harus
segera pergi, menjauh dari tempat ini.” Situasi berubah seratus delapan puluh
derajat.
Semua
orang berhamburan keluar, alarm meraung kencang, semua orang panik, semua harus
segera pergi. Nuklir di bawah gedung ini aktif kembali. Madam berlari
panik hendak keluar dari ruangan.
“Tunggu,
Madam!” Aku memberhentikan Madam.
“KAU MAU
MATI?” Madam membalas dengan wajah sangat cemas.
Situasi
semakin gaduh, jalanan kacau, suara-suara peringatan terdengar jelas, semua
penduduk sekitar harus segera menjauh dari gedung kepolisian ini,
sejauh-jauhnya.
“Aku bisa
menyelesaikannya, jangan panik, Madam, aku tahu orangnya, aku bisa
mematikan nuklirnya jika kau mau, aku butuh komputer.” Aku berkata
cepat.
“Ada di
lantai dua. Good luck!” Madam berteriak, berlari keluar ruangan, masih
dengan wajah sangat cemas. Pergi.
Alarm
terus meraung kencang dimana-mana. Aku berlari cepat menaiki anak tangga menuju
lantai dua, mengoperasikan PC SERVER Administrator kantor ini. Aku
Berpikir sebentar untuk banyak hal. Memang bahaya, MK 24/B-24,
nuklir buatan AS yang dahulu dibeli Belanda untuk meledakkan Jakarta,
namun urung –entah dengan pertimbangan apa mereka memendam nuklir itu. Sedikit
sekali orang yang tahu hal ini. Kantor kepolisian? Entahlah, aku tidak tahu
mengapa kantor ini didirikan tepat di atas nuklir yang terpendam –yang
masih bisa aktif kembali. Entahlah.
Aku
berhasil masuk system. Aku harus menghapus jejak bukti identitasku di
kepolisian ini -termasuk saudariku. Mengetikkan banyak script, meskipun
ini PC SERVER Administrator, tetap banyak yang harus dibobol. Kata
kunci harus dihafal oleh seorang Admin. Berhasil.
Lima menit
berlalu. Jam dinding terus berputar,
membuatku lebih cemas.
Selanjutnya
aku harus segera login. Alarm terus mengaung kencang, sekitaran kantor
kepolisian sudah lengang, semua sudah pergi jauh-jauh, hanya tertinggal
beberapa orang berlari panik. Bingung. Dan aku masih bertaruh atas hidupku,
tepat di atas nuklir yang siap meledak.
“Selamat
datang Med R1tchy Angel J.” Aku memandang ke layar monitor,
sedikit mengerutkan dahi, Einst3in mengirim pesan kepadaku. Sial, cepat
sekali dia menemukanku.
“Kau gila, Eins! Kau benar-benar gila!” Aku membalas cepat pesan
Einst3in.
“Kau
tidak punya banyak waktu, Med, pergilah jauh-jauh, aku ingin meledakkan kantor
kepolisian itu, semua orang sudah pergi, bukan? Aku ingin menghapus semua jejak
bukti, termasuk semua anak buahku disana, pergilah, Med!”
Aku harus
berpikir cepat, menghitung situasi, tidak terlalu mempedulikan pesan barusan,
aku harus segera mematikan nuklir itu, mengetikkan banyak sekali script,
mencari berbagai cara.
Dua menit
berlalu cepat. Waktu tersisa delapan menit sebelum ledakan dahsyat.
Tidak ada
lagi yang bisa menghidupkan dan mematikan nuklir itu dengan cara manual, terlebih
nuklir itu terpendam dibawah kantor kepolisian. Hanya program digital
yang bisa melakukannya, mengakses dengan program yang amat sulit, bahkan tidak
ada yang bisa dan berani untuk mengoperasikan lagi nuklir itu. Tapi Eins
-buronan dunia itu- bisa dan berani. Kali ini aku panik, cemas, andai aku tidak
bisa mematikan nuklir itu. Waktu semakin sempit.
Tujuh
menit waktu tersisa.
“Bingo!” Aku berhasil
menemukan cara. Sangat rumit. Aku harus terhubung ke server militer Belanda. Sial.
Untuk masuk ke dalam server aku harus bersusah payah, lebih rumit dari keamanan
system buatan Indonesia. Bagaimana bisa Eins mengaktifkan nuklir itu?
Lima menit
waktu tersisa.
Keringat
mulai keluar, suhu tubuh meningkat. Aku melepas napas. Sangat rumit.
“Kau butuh
bantuan, Med?” Theo, orang yang sangat antusias menangkapku datang kepadaku. Baiklah.
Theo hendak duduk di depan PC di sebelahku. Aku tidak tahu persis apa
tujuannya datang kepadaku. Entahlah. Anggap saja ini keberuntunganku.
“Theo, kau
ambil alih posisiku, aku tahu kau ahli dalam ilmu nuklir, kau juga
sangat ahli dalam bahasa mesin. Kau tinggal melanjutkan, Theo. Aku
kesulitan.”
Empat
menit waktu tersisa.
Aku bertukar tempat dengan Theo.
Lihatlah, Theo lebih lihai mengetikkan script. Biarkan dia mematikan
nuklir itu. Kali ini aku harus menangkap buronan besar itu. Login, segera
melacak keberadaannya. Dimana kau Eins!
“Kau ini
keras kepala, Med.” Lagi-lagi Eins mengirim pesan. Theo juga membaca pesan itu.
Aku langsung menjelaskan cepat siapa orang itu, meskipun belum detail. Dia akan
tahu semuanya setelah aku menemukannya. Dan kini aku sedang mencarinya, Theo
hanya berucap “Temukan segera!” Baiklah.
Kami
semakin tegang. Hidup adalah taruhannya. Hanya dalam hitungan menit.
Dua menit
waktu tersisa.
“Ini gila,
Med. Sangat rumit.” Kami semakin tegang. Aku menelan ludah untuk kesekian
kalinya. “Aku yakin kau bisa, Theo!” Jari dan keyboard beradu semakin
sengit.
Baiklah.
Baiklah. “Bersiaplah untuk mati, Kawan!” Einst3in tersenyum jahat disana.
Aku sedikit
menengok TV besar yang tergantung di tembok. Belanda telah mendapatkan sinyal
dari satelit militernya, memberikan kabar darurat kepada Indonesia.
Telat.
Satu menit
waktu tersisa.
Baiklah,
hidup dan matiku ditaruhkan dalam waktu kurang dari satu menit.
“BINGO!”
Kami berdua berteriak bersamaan, ber”huh” lega. “Satu langkah lagi, kawan.”
Hitungan
mundur, nuklir itu memberikan tanda suara
keras. Akan terjadi ledakan dahsyat, sepuluh detik hitungan mundur. TUT.
TUT. TUT. Suara yang seiring dengan hitungan detik. Keras. Aku
mengetikkan script terakhir, script pamungkas. TUT.TUT.TUT.TUT.
Tiga detik terakhir.
Aku
mengirimkan beberapa file phising kepada Eins, dengan judul ‘READ ME
PLEASE!’, file yang akan secara otomatis menginstal, menutup semua jalur
akses komputernya, Eins harus membuka file tersebut, memang harus!.
ENTER. ENTER. “BINGO!!!” File itu dibuka, memberikan banyak sekali
keterangan tentang komputer yang Eins pakai. Alamat, user, dan semuanya.
Kami berteriak kencang, bangga. Sangat bangga. Einst3in terlacak.
Bersamaan dengan itu, Nuklir mati. Theo telah menumpahkan script
pamungkasnya. Kami melepaskan napas panjang. Lega. Sangat lega!
Kami
segera memberitahu seluruh kepolisian untuk menangkap Einst3in, atas nama
kepolisian pusat. Mereka segera bergegas. Menangkapnya.
“Kau
memang hacker bedebah, Med! Selalu saja menggangguku.” Pesan Eins,
terakhir.
“Selamat
tinggal, Einst3in. Peace!” Aku juga mengirim pesan -terakhir- untuk
Eins.
Suasana
berangsur membaik. Lima belas menit, semua orang telah kembali ke rumah
masing-masing setelah mendapatkan berita keterangan aman dari Belanda.
Kepolisian juga melaporkan, pelaku sudah tertangkap. Orang-orang kantor
kembali, beberapa menyalamiku, berterimakasih. Berterimakasihlah kepada
Madam. Madam tersenyum bangga. Dia akan menjadi terkenal. Media akan menyiarkan,
Madam adalah orang yang hebat, telah menangkap Einst3in sebagai cyber mafia besar
sekaligus dalang atas semua kejahatan ini. Dia akan naik pangkat. Dan
saudariku, dia akan terbebas bersamaku. Tidak ada lagi jejak bukti kejahatan
atas namaku atau saudariku. Tidak ada. Tidak akan pernah lagi.
Kali ini
dunia akan berterimakasih kepada Madam.
Madam
mendekatiku,“Kau luar biasa, Angel. Aku tahu, kau dan saudarimu adalah hacker
yang baik, memanipulasi data. Tujuan baik. Catatan terakhir yang aku
dapatkan, kau berhasil membuat pemerintah Perancis membuat keputusan baru.
Memberikan dana untuk pembangunan seribu pondok pesantren, panti asuhan, sekolah
dan masjid-masjid. Dana alokasi untuk gereja diputus atas catatan
pelanggaran. Ternyata banyak sekali catatan baik atas identitasmu, banyak hacker
yang mati berkat kau. Terimakasih, R1chy! Dunia membutuhkan kalian.”
Richy. Itu
saudariku, Madam.
Biar gua tebak...
ReplyDeleteNi nyontek film who am i no system is save kan?
Hahahahaha
Tapi keren gan... Gua ampe ketawa tawa :v
Ngomongnya jgn "nyontek" dong ...
Deletewkwk mirip aja gan. W suka si sm Film itu.
Bagus banget. Jadi terinspirasi buat bikin cerpen. Terimakasih
ReplyDeleteWho am i banget BND jerman awkwk ispirasinya terlalu menyeluruh
ReplyDelete