Sunday, December 18, 2016

MAKALAH AKHLAK TASAWUF TARIKAT DAN TUJUH MACAM KENAIKAN ROHANI




Makalah ini diposting oleh: Hendra Dea Arifin (16650033) 
MAKALAH AKHLAK DAN TASAWUF
Tarikat Dan 7 Macam Kenaikan Rohani

 


Oleh :
Sekar Minati                            16650023
Fauzi Wibowo                        16650029
Hendra Dea Arifin                  16650033
Azis Alvriyanto                      16650036
Nur Rahman Laguni               16650048


TEKNIK INFORMATIKA (A)
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Keimanan para malaikat selalu sama sesuai porsinya, keimanan para nabi dan rosul selalu meningkat, sedangkan keimanan manusia bersifat fluktuatif. Terkadang naik, terkadang turun. Untuk selalu menambah porsi keimanan manusia, maka harus ada usaha untuk terus mau, mampu, dan mumpuni. Mau untuk terus belajar, mampu untuk terus bertindak, dan ilmu yang mumpuni.
Di era modern seperti sekarang ini masih banyak yang belum bisa mengamalkan islam secara sempurna, bahkan ketertarikan dan kemauan untuk belajar pun sangat sedikit. Maka kuliah di universitas islam adalah salah satu dari sedikit solusi yang bisa kita ambil. Dan belajar tentang akhlak tasawuf juga merupakan bagian dari penambahan ilmu supaya lebih mumpuni.
Disini, kami menulis makalah ini salah satunya untuk belajar apa itu tarekat beserta tujuh macam kenaikan rohani atau kenaikan iman. Selain untuk belajar kami juga ingin menyampaikan materi ini kepada teman-teman agar ilmu itu bisa diketahui banyak orang, atau kata lainnya berdakwah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksut dengan tarekat itu ?
2.      Bagaimana Kolerasi Tarekat dengan Tasawuf?
3.      Apa saja aliran-aliran tarekat didunia islam?
4.      Apa saja 7 macam kenaikan rohani dan pengertiannya?

C.    Tujuan Pembahasan
1.      Mengetahui makna tarikat.
2.      Mengetahui Kolerasi tarekat dengan tasawuf.
3.      Mengetahui macam – macam aliran tarekat yang ada didunia islam.
4.      Memahami 7 macam kenaikan rohani dan pengertiannya.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tarekat
Asal kata tarekat dalam bahasa Arab ialah thariqah yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu. Tarekat adalah jalan yang ditempuh para sufi. Dapat pula digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat sebab jalan utama disebut syari’ sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata turunan ini menunjukkan bahwa menurut anggapan sufi, pendidikan mistik merupakan cabang bagi setiap muslim. Tidak mungkin ada anak jalan apabila tidak ada jalan utama tempat berpangkal. Pengalaman mistik tidak mungkin didapat apabila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati.
Menurut Harun Nasution, tarekat berasal dari kata thariqah yang artinya jalan yang harus harus ditempuh oleh seorang sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Alloh. Thariqah kemudian mengandung arti organisasi (tarekat). Setiap thariqah mempunyai syaikh, upacara ritual, dan dzikir tersendiri.
Sebagai suatu metodologi, tarekat disebut juga dengan suluk yang artinya kumulan tata cara dan aturan yang berkaitan dengan bagian-bagian di dalam tasawuf.
Martin van Bruinessen menyatakan istilah tarekat paling tidak dipakai untuk dua hal yang secara konseptual berbeda. Maknanya yang asli merupakan paduan yang khas dari doktrin, metode, dan ritual. Akan tetapi, istilah ini pun sering dipakai untuk mengacu kepada organisasi (formal atau informal) yang menyatukan pengikut-pengikut “jalan” tertentu. Di Timur Tengah istilah tha’ifah terkadang lebih disukai untuk organisasi sehingga lebih mudah untuk membedakan antara yang satu dan yang lain. Namun di Indonesia, kata tarekat mengacu pada keduanya.
Tarikat juga berarti jalan atau cara untuk mencapai maqamat dalam rangka mendekatkan diri kepada tuhan secara relative tarikat merupakan tahap palig akhir dari perkembangan tasawuf. Akan tetapi mejelang penghujung abad XIII, ketika orang Indonesia mulai berpaling kepada islam, tarikt justru sedang berada pada puncak kejayaannya.
Sebagai amalan tasawuf, pada dasarnya tarikat terdiri atas dua bagian utama, yaitu penyucian hati dan meditasi dalam rangka berdzikir kepada Allah.
Algazhali dalam Almunqidz min Ad-Dhalal menjelaskan bahwa tarikat itu awal. Syarat-syaratnya adalah penyucian hati secara keseluruhan dari apa saja selain Allah. Kunci pembukannya laksana takbik awal shalat yang menenggelamkan hati dalam dzikir pada Allah dan berakhir fana didalamNya. “

B.     Bagaimana Kolerasi Tarekat dengan Tasawuf?
Istilah tarekat dalam tasawuf sering dihubungkan dengan syariat dan hakikat. Ketiga istilah tersebut (tarekat, syariat, dan hakikat) dipakai untuk menggambarkan tingkatan penghayatan keagamaan seorang muslim. Penghayatan keagamaan peringkat awal disebut syariat, peringkat dua disebut tarekat, dan peringkat tertinggi disebut hakikat.

C.    Apa saja aliran-aliran tarekat didunia islam?
Tarekat berkembang pesat di hampir seluruh dunia termasuk di Indonesia. Perkembangannya yang pesat memberikan dampak positif bagi perkembangan dakwah, karena perkembangan tarekat juga merupakan perkembangan dakwah islam. Tarekat-tarekat yang berkembang dalam dunia islam antara lain sebagai berikut.
11.      Tarekat Qadiriyyah
22.     Tarekat Syadziliyyah
33.     Tarekat Syattariyyah
44.      Tarekat Naqsyabandiyyah
55.      Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah
66.      Tarekat Tijaniyyah
77.      Tarekat Sanusiyyah
88.      Tarekat Samaniyyah
99.      Tarekat Rifaiyyah
110.  Tarekat Kholwatiyyh
111.  Tarekat Mualawiyyah
112.  Tarekat Alawiyyah
113.  Tarekat Chistiyyah
114.  Tarekat Ni’matullahiyah
115.  Tarekat Shafahiyyah
116.  Tarekat Bektasyiyyah
117.  Tarekat Bahramiyyah
118.  Tarekat Shiddiqiyyah
119.  Tarekat Wahidiyyah

D.    Apa saja 7 macam kenaikan rohani dan pengertiannya?
1.      Mahabah
Mahabah berarti cinta, mencintai secara mendalam, yakni lawan dari benci. Mahabah juga bermiripan makna dengan al-wadud yang berarti pengasih atau penyayang. Sedangkan dalam kajian tasawuf, mahabah berarti mencintai Allah. Cinta kepada Allah berarti harus patuh kepada-Nya, serta membenci sikap yang melanggar perintah-Nya, dan senantiasa menyerahkan diri kepada Allah sepenuhnya.
Kaum sufi menganggap mahabah sebagai modal utama untuk menuju jenjang kenaikan rohani yang lebih tinggi. Seseorang yang sudah memiliki sifat ini, akan senantiasa beribadah dengan baik dan meningkatkan ketawakkalannya kepada Allah.
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”(Q.S. Al-Baqarah ayat 165)

2.      Zuhud/wara
Zuhud berarti sedikit. Maksudnya, orang yang zuhud tidak menilai sesuatu yang ada di dunia ini secara berlebihan, karena apa yang ada di dunia ini hanyalah sarana untuk beribadah kepada Allah. Jadi orang zuhud tidak terlalu mementingkan hal-hal yang bersifat duniawi. Orang-orang zuhud yang bekerja dan berusaha di dunia cukup menargetkan kebutuhan, bukan keinginan. Karena keinginan jika dituruti semuanya, tidak akan ada habisnya. Dunia sudah ada di tangannya, namun dia hanya memandangnya sedikit dan cukup. Tidak memandang itu sebagai sesuatu yang sangat bernilai.
Wara berarti menahan diri, menahan untuk tidak memegangnya sebelum meraihnya. Maksudnya, menjaga diri dan berhati-hati terhadap hal-hal yang syubhat atau tidak jelas posisinya apakah halal atau haran.
Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada yang syubhat, manusia tidak banyak yang mengetahuinya. Siapa yang menjaga diri dari syubhat maka selamatlah agama dan kehormatannya. Dan siapa yang jatuh pada yang syubhat, maka jatuh pada yang haram”. (HR. Bukhori & Muslim)

Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi:
“Wahai Musa, sesungguhnya orang tidak dapat berpura-pura dari-Ku, seperti zuhud terhadap dunia, tidak mendekatkan diri kepada-Ku sebagaimana orang-orang yang wara’ dari apa yang Aku haramkan atas mereka, dan tidak pula para ahli ibadah yang beribadah kepada-Ku seperti menangis karena takut kepada-Ku.”(HR al-Qadha’i dari Ka’ab)

3.      Taubah
Taubah atau taubat berarti kembali. Maksudnya kembali kepada taat kepada Allah dan menyesal atas perbuatan buruknya. Baik itu dosa kecil ataupun dosa besar, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Bertaubat hukumnya wajib.
Taubat bermakna mirip dengan meminta maaf. Ketika kita bersalah dengan sesama manusia, maka kita harus meminta maaf kepada orang tersebut, sekaligus memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Dan andaikata dosa itu berkaitan dengan harta benda, maka wajib untuk mengembalikan harta tersebut.
Taubatan sebenar-benarnya taubat (Taubah Nasuha) adalah taubat yang sesungguhnya. Setelah menyesali kesalahannya, lalu insaf dan berazam yang kokoh untuk benar-benar meninggalkan perbuatan buruknya, beramal kebajikan, dan senantiasa bersyukur.
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Q.S. Hud ayat 3)

4.      Muhasabah
Muhasabah bisa diartikan sebagai intospeksi diri atau evaluasi diri. Merenungkan apa yang telah diperbuat, lalu menyusun koreksi diri, merencanakan perbaikan, dan membuat langkah untuk melakukan perubahan menuju yang lebih baik dengan langkah-langkah yang telah diputuskan dan sesuai tuntunan agama.
Perencanaan merupakan bagian awal dari suatu aktivitas, bagaimanapun bagusnya rencana jika tidak terlaksana, maka tidak akan tercapai targetnya. Setelah merencanakan suatu kegiatan dan melakukannya, hasilnya perlu dikoreksi dan terus dievaluasi agar bisa sempurna sesuai rencana.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr: 18)

5.      Sabar
Sabar merupakan sebagian perbuatan yang utama untuk dimiliki setiap orang. Semua agama berprinsip bahwa Tuhan akan selalu mengasihi orang-orang yang memiliki sifat sabar. Sabar berarti kuat imannya, luas pengetahuannya, dan tidak buruk prasangkanya. Orang sabar tidak lagi membeda-bedakan mana lawan mana kawan, semuanya dianggap sama saja. Kesabaran dapat diumpamakan seperti jamu yang sangat pahit rasanya, yang hanya kuat diminum oleh orang yang kuat dan kokoh pendiriannya, tetapi jamu itu membuat diri menjadi lebih sehat.
Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)

6.      Syukur
Syukur berarti pujian atas kebaikan. Bisa juga diartikan sebagai tanda terimakasih atas sesuatu yang telah diberikan. Orang yang selalu bersyukur akan mendapat kenikmatan yang lebih. sedangkan orang yang kufur, dijanjikan oleh Allah dengan siksaan yang amat pedih.
Banyak mufassir berpendapat bahwa kebanyakan musibah datang karena manusia kufur atau tidak berterimakasih atas nikmat tuhannya.
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)
Seseorang yang selalu merasa bersyukur tidak akan merasakan sebuah musibah itu sebagai musibah, karena selalu menjadikan semua yang diberikan oleh Allah sebagai suatu pemberian yang terbaik untuknya.

7.      Ikhlas dan ridha
Ikhlas berarti murni. Maksudnya, seseorang melakukan suatu perbuatan yang semata-mata hanya karena Allah. Sama sekali tidak ada niatan untuk mendapatkan imbalan dan pujian dari orang lain. Orang yang ikhlas dan ridho, sangat tidak pantas untuk mengharapkan keuntungan atau imbalan dari orang lain, terlebih mengeluh dan merasa susah atas pekerjaannya.
Dalam beberapa hal, ridho dan ikhlas sering disamakan artinya. Namun ikhlas dan ridho sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Ridho biasanya berhubungan dengan penerimaan terhadap takdir (qodho dan qodar) dari Allah. Orang yang ridho mempercayai dengan sungguh sungguh bahwa semua yang menimpa dan yang diberikan olehnya adalah yang terbaik untuknya.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-NYA dalam (menjalankan) agama dengan lurus ….” (Q.S. Al-Bayyinah ayat 5)




BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Berdasarkan paparan makalah diatas, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Tarekat adalah jalan yang ditempuh para sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2.      Penghayatan keagamaan peringkat awal disebut syariat, peringkat dua disebut tarekat, dan peringkat tertinggi disebut hakikat.
3.      Tarekat-tarekat yang berkembang dalam dunia islam antara lain Tarekat Qadiriyyah, Tarekat Syadziliyyah, Tarekat Syattariyyah, Tarekat Naqsyabandiyyah, dan lain-lain.
4.      Ada tujuh macam tingkatan kenaikan rohani, yaitu mahabah, zuhud, taubah, muhasabah, sabar, syukur, dan ikhlas.
DAFTAR PUSTAKA

Martin van Bruinessen. 1994. Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia. Bandung : Mizan.
Bachrun Saifuddin. 2011. Manajemen Muhasabah Diri. Bandung : Mizania.
Purwadi. 2003. Tasawuf Jawa. Yogyakarta : Narasi.
Aqil Said. 2012. Ilmu Tasawuf. Jakarta : Amzah.

2 comments:

  1. gara-gara gak presentasi, terus gantinya diposting gitu..?

    ReplyDelete
  2. gara-gara waktu ngeblog yg singkat, bingung mau nulis apa, yaudah posting ini aja..

    ReplyDelete