Makalah ini diposting oleh: Hendra Dea
Arifin (16650033)
MAKALAH AKHLAK DAN
TASAWUF
Tarikat Dan 7
Macam Kenaikan Rohani
Oleh :
Sekar Minati 16650023
Fauzi Wibowo 16650029
Hendra Dea Arifin 16650033
Azis Alvriyanto 16650036
Nur Rahman Laguni 16650048
TEKNIK INFORMATIKA
(A)
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Masalah
Keimanan
para malaikat selalu sama sesuai porsinya, keimanan para nabi dan rosul selalu
meningkat, sedangkan keimanan manusia bersifat fluktuatif. Terkadang naik,
terkadang turun. Untuk selalu menambah porsi keimanan manusia, maka harus ada
usaha untuk terus mau, mampu, dan mumpuni. Mau untuk terus belajar, mampu untuk
terus bertindak, dan ilmu yang mumpuni.
Di
era modern seperti sekarang ini masih banyak yang belum bisa mengamalkan islam
secara sempurna, bahkan ketertarikan dan kemauan untuk belajar pun sangat
sedikit. Maka kuliah di universitas islam adalah salah satu dari sedikit solusi
yang bisa kita ambil. Dan belajar tentang akhlak tasawuf juga merupakan bagian
dari penambahan ilmu supaya lebih mumpuni.
Disini,
kami menulis makalah ini salah satunya untuk belajar apa itu tarekat beserta
tujuh macam kenaikan rohani atau kenaikan iman. Selain untuk belajar kami juga
ingin menyampaikan materi ini kepada teman-teman agar ilmu itu bisa diketahui
banyak orang, atau kata lainnya berdakwah.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksut
dengan tarekat itu ?
2.
Bagaimana Kolerasi
Tarekat dengan Tasawuf?
3.
Apa saja aliran-aliran
tarekat didunia islam?
4.
Apa saja 7 macam
kenaikan rohani dan pengertiannya?
C.
Tujuan
Pembahasan
1. Mengetahui
makna tarikat.
2. Mengetahui
Kolerasi tarekat dengan tasawuf.
3. Mengetahui
macam – macam aliran tarekat yang ada didunia islam.
4. Memahami
7 macam kenaikan rohani dan pengertiannya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Tarekat
Asal
kata tarekat dalam bahasa Arab ialah thariqah yang berarti jalan, keadaan,
aliran, atau garis pada sesuatu. Tarekat adalah jalan yang ditempuh para sufi.
Dapat pula digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat sebab jalan
utama disebut syari’ sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata turunan ini
menunjukkan bahwa menurut anggapan sufi, pendidikan mistik merupakan cabang
bagi setiap muslim. Tidak mungkin ada anak jalan apabila tidak ada jalan utama
tempat berpangkal. Pengalaman mistik tidak mungkin didapat apabila perintah
syariat yang mengikat itu tidak ditaati.
Menurut
Harun Nasution, tarekat berasal dari kata thariqah yang artinya jalan yang
harus harus ditempuh oleh seorang sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan
Alloh. Thariqah kemudian mengandung arti organisasi (tarekat). Setiap thariqah
mempunyai syaikh, upacara ritual, dan dzikir tersendiri.
Sebagai
suatu metodologi, tarekat disebut juga dengan suluk yang artinya kumulan tata
cara dan aturan yang berkaitan dengan bagian-bagian di dalam tasawuf.
Martin
van Bruinessen menyatakan istilah tarekat paling tidak dipakai untuk dua hal
yang secara konseptual berbeda. Maknanya yang asli merupakan paduan yang khas
dari doktrin, metode, dan ritual. Akan tetapi, istilah ini pun sering dipakai
untuk mengacu kepada organisasi (formal atau informal) yang menyatukan
pengikut-pengikut “jalan” tertentu. Di Timur Tengah istilah tha’ifah terkadang
lebih disukai untuk organisasi sehingga lebih mudah untuk membedakan antara
yang satu dan yang lain. Namun di Indonesia, kata tarekat mengacu pada
keduanya.
Tarikat
juga berarti jalan atau cara untuk mencapai maqamat dalam rangka mendekatkan
diri kepada tuhan secara relative tarikat merupakan tahap palig akhir dari
perkembangan tasawuf. Akan tetapi mejelang penghujung abad XIII, ketika orang
Indonesia mulai berpaling kepada islam, tarikt justru sedang berada pada puncak
kejayaannya.
Sebagai
amalan tasawuf, pada dasarnya tarikat terdiri atas dua bagian utama, yaitu
penyucian hati dan meditasi dalam rangka berdzikir kepada Allah.
Algazhali
dalam Almunqidz min Ad-Dhalal menjelaskan bahwa tarikat itu awal.
Syarat-syaratnya adalah penyucian hati secara keseluruhan dari apa saja selain
Allah. Kunci pembukannya laksana takbik awal shalat yang menenggelamkan hati
dalam dzikir pada Allah dan berakhir fana didalamNya. “
B.
Bagaimana
Kolerasi Tarekat dengan Tasawuf?
Istilah
tarekat dalam tasawuf sering dihubungkan dengan syariat dan hakikat. Ketiga
istilah tersebut (tarekat, syariat, dan hakikat) dipakai untuk menggambarkan
tingkatan penghayatan keagamaan seorang muslim. Penghayatan keagamaan peringkat
awal disebut syariat, peringkat dua disebut tarekat, dan peringkat tertinggi
disebut hakikat.
C.
Apa saja
aliran-aliran tarekat didunia islam?
Tarekat
berkembang pesat di hampir seluruh dunia termasuk di Indonesia. Perkembangannya
yang pesat memberikan dampak positif bagi perkembangan dakwah, karena
perkembangan tarekat juga merupakan perkembangan dakwah islam. Tarekat-tarekat
yang berkembang dalam dunia islam antara lain sebagai berikut.
11. Tarekat
Qadiriyyah
22. Tarekat
Syadziliyyah
33. Tarekat
Syattariyyah
44. Tarekat
Naqsyabandiyyah
55. Tarekat
Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah
66. Tarekat
Tijaniyyah
77. Tarekat
Sanusiyyah
88. Tarekat
Samaniyyah
99. Tarekat
Rifaiyyah
110. Tarekat
Kholwatiyyh
111. Tarekat
Mualawiyyah
112. Tarekat
Alawiyyah
113. Tarekat
Chistiyyah
114. Tarekat
Ni’matullahiyah
115. Tarekat
Shafahiyyah
116. Tarekat
Bektasyiyyah
117. Tarekat
Bahramiyyah
118. Tarekat
Shiddiqiyyah
119. Tarekat
Wahidiyyah
D.
Apa saja
7 macam kenaikan rohani dan pengertiannya?
1. Mahabah
Mahabah berarti cinta, mencintai secara mendalam,
yakni lawan dari benci. Mahabah juga bermiripan makna dengan al-wadud yang
berarti pengasih atau penyayang. Sedangkan dalam kajian tasawuf, mahabah
berarti mencintai Allah. Cinta kepada Allah berarti harus patuh kepada-Nya,
serta membenci sikap yang melanggar perintah-Nya, dan senantiasa menyerahkan
diri kepada Allah sepenuhnya.
Kaum
sufi menganggap mahabah sebagai modal utama untuk menuju jenjang kenaikan
rohani yang lebih tinggi. Seseorang yang sudah memiliki sifat ini, akan
senantiasa beribadah dengan baik dan meningkatkan ketawakkalannya kepada Allah.
“Dan
diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”(Q.S. Al-Baqarah ayat 165)
2. Zuhud/wara
Zuhud berarti sedikit. Maksudnya, orang yang zuhud
tidak menilai sesuatu yang ada di dunia ini secara berlebihan, karena apa yang
ada di dunia ini hanyalah sarana untuk beribadah kepada Allah. Jadi orang zuhud
tidak terlalu mementingkan hal-hal yang bersifat duniawi. Orang-orang zuhud
yang bekerja dan berusaha di dunia cukup menargetkan kebutuhan, bukan
keinginan. Karena keinginan jika dituruti semuanya, tidak akan ada habisnya.
Dunia sudah ada di tangannya, namun dia hanya memandangnya sedikit dan cukup. Tidak
memandang itu sebagai sesuatu yang sangat bernilai.
Wara berarti menahan diri, menahan untuk tidak
memegangnya sebelum meraihnya. Maksudnya, menjaga diri dan berhati-hati
terhadap hal-hal yang syubhat atau tidak jelas posisinya apakah halal atau
haran.
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara
keduanya ada yang syubhat, manusia tidak banyak yang mengetahuinya. Siapa yang
menjaga diri dari syubhat maka selamatlah agama dan kehormatannya. Dan siapa
yang jatuh pada yang syubhat, maka jatuh pada yang haram”. (HR. Bukhori
& Muslim)
Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi:
“Wahai Musa,
sesungguhnya orang tidak dapat berpura-pura dari-Ku, seperti zuhud terhadap
dunia, tidak mendekatkan diri kepada-Ku sebagaimana orang-orang yang wara’ dari
apa yang Aku haramkan atas mereka, dan tidak pula para ahli ibadah yang
beribadah kepada-Ku seperti menangis karena takut kepada-Ku.”(HR
al-Qadha’i dari Ka’ab)
3. Taubah
Taubah atau taubat berarti kembali. Maksudnya
kembali kepada taat kepada Allah dan menyesal atas perbuatan buruknya. Baik itu
dosa kecil ataupun dosa besar, baik disengaja ataupun tidak disengaja.
Bertaubat hukumnya wajib.
Taubat bermakna mirip dengan meminta maaf. Ketika
kita bersalah dengan sesama manusia, maka kita harus meminta maaf kepada orang
tersebut, sekaligus memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah. Dan andaikata
dosa itu berkaitan dengan harta benda, maka wajib untuk mengembalikan harta
tersebut.
Taubatan
sebenar-benarnya taubat (Taubah Nasuha) adalah
taubat yang sesungguhnya. Setelah menyesali kesalahannya, lalu insaf dan
berazam yang kokoh untuk benar-benar meninggalkan perbuatan buruknya, beramal
kebajikan, dan senantiasa bersyukur.
“Dan hendaklah kamu
meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan
yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus)
kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan
kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Q.S. Hud ayat 3)
4. Muhasabah
Muhasabah bisa diartikan sebagai intospeksi diri
atau evaluasi diri. Merenungkan apa yang telah diperbuat, lalu menyusun koreksi
diri, merencanakan perbaikan, dan membuat langkah untuk melakukan perubahan
menuju yang lebih baik dengan langkah-langkah yang telah diputuskan dan sesuai
tuntunan agama.
Perencanaan merupakan bagian awal dari suatu
aktivitas, bagaimanapun bagusnya rencana jika tidak terlaksana, maka tidak akan
tercapai targetnya. Setelah merencanakan suatu kegiatan dan melakukannya,
hasilnya perlu dikoreksi dan terus dievaluasi agar bisa sempurna sesuai
rencana.
“Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa
yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(QS. Al-Hasyr: 18)
5. Sabar
Sabar merupakan sebagian perbuatan yang utama untuk
dimiliki setiap orang. Semua agama berprinsip bahwa Tuhan akan selalu mengasihi
orang-orang yang memiliki sifat sabar. Sabar berarti kuat imannya, luas
pengetahuannya, dan tidak buruk prasangkanya. Orang sabar tidak lagi
membeda-bedakan mana lawan mana kawan, semuanya dianggap sama saja. Kesabaran
dapat diumpamakan seperti jamu yang sangat pahit rasanya, yang hanya kuat diminum
oleh orang yang kuat dan kokoh pendiriannya, tetapi jamu itu membuat diri
menjadi lebih sehat.
Dan Allah
Ta’ala berfirman:
“Dan sungguh akan Kami
berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang
yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
6. Syukur
Syukur berarti pujian atas kebaikan. Bisa juga
diartikan sebagai tanda terimakasih atas sesuatu yang telah diberikan. Orang
yang selalu bersyukur akan mendapat kenikmatan yang lebih. sedangkan orang yang
kufur, dijanjikan oleh Allah dengan siksaan yang amat pedih.
Banyak mufassir berpendapat bahwa kebanyakan musibah
datang karena manusia kufur atau tidak berterimakasih atas nikmat tuhannya.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)
Seseorang
yang selalu merasa bersyukur tidak akan merasakan sebuah musibah itu sebagai
musibah, karena selalu menjadikan semua yang diberikan oleh Allah sebagai suatu
pemberian yang terbaik untuknya.
7. Ikhlas
dan ridha
Ikhlas
berarti murni. Maksudnya, seseorang melakukan suatu perbuatan yang semata-mata
hanya karena Allah. Sama sekali tidak ada niatan untuk mendapatkan imbalan dan
pujian dari orang lain. Orang yang ikhlas dan ridho, sangat tidak pantas untuk
mengharapkan keuntungan atau imbalan dari orang lain, terlebih mengeluh dan
merasa susah atas pekerjaannya.
Dalam beberapa hal, ridho dan ikhlas sering
disamakan artinya. Namun ikhlas dan ridho sebenarnya memiliki makna yang
berbeda. Ridho biasanya berhubungan dengan penerimaan terhadap takdir (qodho
dan qodar) dari Allah. Orang yang ridho mempercayai dengan sungguh sungguh
bahwa semua yang menimpa dan yang diberikan olehnya adalah yang terbaik
untuknya.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-NYA dalam (menjalankan) agama dengan lurus ….” (Q.S. Al-Bayyinah ayat 5)
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Berdasarkan
paparan makalah diatas, dapat
disimpulkan bahwa :
1. Tarekat
adalah jalan yang ditempuh para sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2. Penghayatan
keagamaan peringkat awal disebut syariat, peringkat dua disebut tarekat, dan
peringkat tertinggi disebut hakikat.
3. Tarekat-tarekat
yang berkembang dalam dunia islam antara lain Tarekat Qadiriyyah, Tarekat Syadziliyyah, Tarekat Syattariyyah, Tarekat
Naqsyabandiyyah, dan lain-lain.
4. Ada tujuh macam tingkatan kenaikan rohani, yaitu mahabah,
zuhud, taubah, muhasabah, sabar, syukur, dan
ikhlas.
DAFTAR PUSTAKA
Martin van
Bruinessen.
1994. Tarekat
Naqsabandiyah di Indonesia. Bandung : Mizan.
Bachrun Saifuddin. 2011. Manajemen Muhasabah Diri. Bandung : Mizania.
Purwadi. 2003. Tasawuf Jawa. Yogyakarta : Narasi.
Aqil Said. 2012. Ilmu Tasawuf. Jakarta : Amzah.
gara-gara gak presentasi, terus gantinya diposting gitu..?
ReplyDeletegara-gara waktu ngeblog yg singkat, bingung mau nulis apa, yaudah posting ini aja..
ReplyDelete